Yuk, siap-siap menyambut 10 hari pertama Dzulhijjah
Saya termasuk yang baru tahu kalau ternyata 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah termasuk di antara fase-fase ketaatan yang lebih diutamakan oleh Allah dari pada hari-hari yang lain.
Dalam hadits dikatakan, amal ibadah yang dikerjakan pada hari-hari itu paling agung dan amat dicintai oleh Allah SWT. Bahkan disebutkan juga bahwa amal ibadah pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah dari pada ibadah yang dilakukan pada hari-hari jihad. Subhanallah..
Nah, bulan Dzulhijjah akan datang lagi. Kalau menurut hisab (perhitungan ilmu astronomi), tanggal 1 Dzulhijjah 1429 H jatuh pada malam minggu tanggal 29 November 2008 besok (mulai maghrib). Tapi kepastiannya, biasanya menunggu pengumuman dari pemerintah.
Hayu kita ramaikan..


(gambar: suasana padang arafah - dari gettyimages.com)
Berikut ini ada artikel yang saya ambil dari berbagai sumber. Poinnya ada dua: tentang keutamaan 10 hari pertama bulan dzulhijjah dan tentang amal ibadah yang disyari’atkan pada waktu-waktu tersebut. Semoga dapat menguatkan keimanan kita. Amin.
————
Banyak Muslim yang lupa atau tidak tahu, bahwa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk di antara fase fase ketaatan yang lebih diutamakan Allah SWT dari hari hari lain dalam satu tahun.
Firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala :
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Al-Fajar: 1-2) Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan, bahwa yang di maksud ada-lah 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, daripada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.
Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.
Dalam riwayat lain, Rasul SAW juga bersabda: Tidak ada amal yang lebih disucikan oleh Allah SWT dan lebih diagungkan pahalamnya dari kebaikan yang dilakukan seorang pada 10 hari bulan Adha. Dikatakan: Tidak juga jihad fi sabililah?. Rasul menjawab: “Tidak juga jihad fi sabillah kecuali seorang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. (HR Darami dengan Isnad Hasan)
Dalam beberapa nash lain disebutkan bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah ini adalah hari yang paling baik dalam satu tahun, bahkan lebih baik dari 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi 10 hari terakhir Ramadhan bisa menjadi lebih mulia karena di dalamnya terkandung lailatul Qadar yang timbangannya lebih baik dari 1000 bulan. Ini dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir 5/412.
Rasulullah bersabda: Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid ” (Riwayat Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir)
Adalah Sa’id bin Jubair -rahimahul-lah- dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang lalu, jika datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksa-nakannya) ” (Riwayat Darimi dengan sanad yang hasan)
Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: ” Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.
Ibnu Taimiyyah berkata: “Siang hari pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dibanding siang hari pada 10 hari terakhir Ramadhan, sedangkan malam-malam pada 10 hari terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam-malam pada 10 hari pertama Dzulhijjah”.
AMALAN-AMALAN YANG DISYARIATKAN
(1). Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.
(2). Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebahagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahawa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan di dalam hadist Qudsi :
“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata kerana Aku”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah kerana mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
(3). Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. (Al-Hajj : 28).
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh kerana itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. (Hadits Riwayat Ahmad).
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahawa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabi’in bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu”
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. (Al-Baqarah : 185).
Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
(4). Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba daripada Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” (Hadits Muttafaq ‘Alaihi).
Taubat adalah kembali kepada Allah dan meninggalkan semua yang dilarang Allah secara lahir dan batin dengan menyesali apa yang telah lalu kemudian bertekad untuk tidak mengulanginya lagi dengan memperbanyak amal yang dicintai Allah. Setiap muslim yang melakukan kesalahan harus segera bertaubat.
Setidaknya ada tiga sebab, setiap Muslim yang melakukan kesalahan harus segera bertaubat. Pertama, ia tidak tahu kapan ia akan mati dan pintu amalnya tertutup. Kedua, karena satu keburukan yang dilakukan akan menarik pelakunya untuk melakukan keburukan yang lain. Ketiga, maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya seorang hamba dari kasih sayang Allah, sedangkan keta’atan menjadi penyebab dekat dan pintu cinta kasih Allah kepadanya.
(5). Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
(6). Berkorban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus puteranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyembelih kambing untuk satu orang atau Sapi/Unta untuk tujuh orang. Qurban merupakan ibadah yang ditekankan (sunnah muakkadah) bagi yang mampu.
“Artinya : Berkorban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Muttafaq ‘Alaihi).
(7). Melakukan qiyamul lail.
Bangun malam dan melakukan sholat tahajjud, merupakan amalan sunnah yang dianjurkan pada hari-hari biasa. Kebiasaan melakukan lebih banyak sholat malam pada rentang 10 hari bulan Dzulhijjah dilakukan antara lain oleh Sa’id bin Jubair. Beliau melakukan hal itu berdasarkan apa yang ia lihat dari kebiasaan Ibnu Abbas ra pada malam malam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. “Adalah Ibnu Abbas ra, jika memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat bersungguh sungguh dalam beribadah hingga pada tahap ia tidak mampu melakukannya,” demikian ujar Said bin Jubair.
Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas ra juga menganjurkan kita untuk tidak mematikan lampu sepanjang malam malam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, untuk menambah gairah beribadah pada malam-malam tersebut.
(8) Memeriahkan Hari Raya Idul Adha
Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata: ” Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan bersabda: Abu Daud, Rasulullah
Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar (hari menetap di Mina).
Wallahu a’lam
Tertarik pada IT, Blogging, SEO, Politik, Dakwah, Islam, Indonesia, Sosial, Pendidikan, Wirausaha, Bisnis, dll





