Buku Layak Baca: Parlemen Undercover
Buku yang menarik. Resensi di bawah diambil dari kompas.
Kamis, 20 November 2008 | 23:32 WIB
Oleh: Yayat R. Cipasang*

Judul Buku: Parlemen Undercover (Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat)
Penulis: Abu Semar
Penyunting: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: Pertama, Agustus 2008
Tebal: xvii+251 halaman
ANDA masih ingat kasus anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Max Moein yang diduga terlibat mesum dengan sekretaris pribadinya, Desi Fridiyanti.
Belakangan Desi yang mengaku sudah tidak perawan lagi ini dipecat Max. Desi melalui LBH pembela kaum perempuan meminta pertanggungjawaban anggota DPR yang sebelumnya lebih dikenal berkarier dalam dunia periklanan ini.
Foto Max juga beredar di internet tengah memeluk seorang perempuan tanpa baju. Dalam foto lain, Max tengah tidur pulas “kelelahan” dan di sampingnya seorang perempuan telentang sambil berpaling ke arah Max.
Untuk menguji dua foto tersebut, Badan Kehormatan (BK) DPR dengan tujuan mencari “kebenaran” meminta pendapat ahli telematika Roy Suryo dan kedua foto panas tersebut diuji di Laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hasilnya? Hanya anggota BK DPR yang tahu.
Tapi daripada Anda meminta anggota BK untuk segera mengumumkan keputusan final atas perilaku anggota Dewan yang memang masuk kategori brengsek tersebut, saya sarankan Anda mendingan membaca buku kumpulan cerita atau sketsa berjudul Parlemen Undercover (Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat).
Buku ini ditulis Abu Semar, sebuah nama yang memang tidak wajar. Anda pasti sudah menebak bahwa nama tersebut adalah tiruan, palsu alias nama samaran.
Memang benar, kendati dalam buku tersebut tidak secara eksplisit disebutkan identitasnya.
Kabarnya, penulis buku ini sejatinya adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kebenarannya, wallahu alam bishawab! Hanya penerbit buku ini yang tahu.
Membaca buku inside story setebal 251 halaman ini Anda akan disuguhi 33 perilaku sontoloyo anggota DPR, termasuk urusan syahwat dan berahi anggota Dewan.
Dalam tulisan berjudul Sekretaris Selembar Benang pembaca akan paham empat kriteria sekretaris yang dipilih anggota DPR.
Pertama, sekretaris senior. Sekretaris ini memiliki profesionalitas dan memiliki jam terbang yang tinggi.
Kedua, sekretaris atas hasil persaudaraan (KKN). Sang sekretaris berasal dari keluarga atau kerabat. Ketiga, sekretaris junior.
Sekretaris kategori ini pengalaman tidak diutamakan yang penting kegesitannya.
Nah yang keempat, adalah sekretaris gitar spanyol atau apalah namanya. Sekretaris inilah yang melahirkan korban-korban seperti kasus yang menimpa Desi.
Apalagi anggota Dewan ini memiliki kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan sekretaris pribadi kapanpun dan sesukanya. Bila sang sekretaris kinerjanya buruk atau tidak memuaskan dalam arti positif dan negatif, maka anggota Dewan dengan sangat mudah dapat memecatnya. Easy come, easy go!
Masih dalam tulisan berjudul Sekretaris Selembar Benang diceritakan pula seorang office boy (OB) bernama Yoben—tentu nama samaran—menemukan karet yang lengket menempel dalam tong sampah seorang anggota Dewan. Karet tersebut ternyata sebuah kondom bekas pakai!
Selain masalah syahwat, bagian cerita yang lucu juga dikemas sangat menggelitik. Dalam tulisan berjudul Toilet Kafir diceritakan perilaku lucu sekaligus menggelikan seorang anggota DPR bernama Kiai Badruzzaman dari pemilihan Jawa Timur (kemungkinan kuat dari PKB) dan anggota Komisi Energi.
Sang kiai digambarkan dari kampung, ceplas-ceplos, lugu dan tentu saja doyan humor khas kiai NU. Suatu hari digelar rapat informal dengan lembaga migas di Hotel Muliana (Hotel Mulia).
Di tengah-tengah rapat, kiai tersebut kebelet kencing karena AC (air conditioner) yang sangat dingin. Ia pun menuju rest room. Resleting pun segera dibuka karena urine sudah numpuk hingga ke ujung alat vitalnya.
Namun setelah kencing, sang kiai kesulitan mencari air pembasuh “burung”-nya. Ia kemudian bergeser ke toilet sebelahnya untuk berikhtiar mencari air dengan menekan apapun yang menonjol. Tetap saja air tak ada yang keluar. Begitu terus berulang dan bergeser hingga ke toliet yang paling ujung, tetap nihil.
Saking kesalnya sang kiai berteriak sangat keras. “Dasar toilet kafir!” sambil memasukkan burungnya ke dalam celana.
Tentu saja teriakan sang kiai tersebut membuat kaget orang lain yang berada di rest room. Mereka akhirnya paham apa yang menjadi sumber kejengkelan sang kiai udik tersebut.
Rupanya sang kiai tersebut tidak tahu bahwa toilet di hotel berbintang itu bekerja dengan sistem sensor. Artinya, toilet baru mengeluarkan air setelah pemakainya menjauh.
Dan benar saja, saat kiai tersebut menjauh, toilet menggelontorkan air dengan suara gemuruh. Pak kiai menolah dan kembali berteriak kesal, “Masya Allah, ana udah dia baru kerluar, bener-bener kafir!”
Tentu saja gerutuan sang kiai tersebut membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum simpul.
Beberapa isu dalam buku ini kebanyakan sudah menjadi konsumsi publik dan menjadi laporan utama di media massa. Tulisan berjudul Peneliti Kebal misalnya menceritakan tentang Laboratorium Namru di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, yang mengundang kontroversi.
Namun Namru dalam buku ini diplesetkan menjadi Maritime and Navigation Research Unit (Manru). Sebuah lembaga riset milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang penelitinya memiliki kekebalan diplomatik dan tak bisa dijamah.
Cerita lain di balik isu mutakhir yang menjadi konsumsi publik tetapi tidak terungkap di media massa juga muncul secara segar dalam tulisan Calon Independen, Interpelasi, Sim Salabim Air Jadilah Minyak, Era Keterbukaan (Dan Buka-bukaan) serta Nuklir No, Jalan-jalan Yes.
Menariknya, sang pengarang buku tidak hanya menyamarkan nama-nama pelaku tetapi juga dengan cerdas dan menggelitik memplesetkan nama-nama lembaga dan produk hukum di DPR.
Misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diplesetkan menjadi Badan Pembasmi Suap Menyuap (BPSM), RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi menjadi Rencana Undang-undang Anti Pembeberan Aurat dan Pembeberan Syahwat (RUU APAPS), Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi Badan Bisnis Negara Indosiasat (BBNI), atau Badan Kehormatan DPR menjadi Majelis Pertimbangan Martabat.
Sebuah buku yang enak dibaca, lancar, mengalir dan tentu saja renyah. Saya jamin Anda akan tertawa sendiri saat membaca buku ini.
Penyunting Akmal Nasery Basral yang juga wartawan majalah Tempo sangat besar “jasanya” sehingga tulisan ini menjadi “enak dibaca dan perlu” (seperti tagline Tempo), termasuk kecerdikannya mencari istilah-itilah asosiatif untuk lembaga-lembaga resmi pemerintah dan DPR.
Buku yang layak dibaca oleh anggota DPR untuk berkaca dan menertawakan diri sendiri. Layak dicermati anggota LSM dan pengamat kebijakan publik untuk menilai dan mengevalusi kinerja Dewan. Juga, patut dibaca warga masyarakat untuk hati-hati dalam memilih wakilnya di Parlemen menjelang Pemilu dan Pilpres 2009.
Penerbitan buku ini sangat aktual dan tepat di saat anggota DPR diterpa badai krisis moral mulai dari masalah pelecehan seksual, makelar kasus (markus), suap dana aliran BI Rp 31,5 miliar yang menyeret besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan suap pengalihan hutan lindung di Kabupaten Bintan, Kepualauan Riau serta Tanjungapiapi, Sumatra Selatan.
======
Yayat R Cipasang, Direktur Eksekutif Institute for Press and Cultural Studies (IPCS). Lahir dan dibesarkan di sebuah udik di Priangan Timur, tepatnya di Ciamis, 29 Maret 1973. Sejumlah tulisan berupa feature, resensi buku, dan artikel dimuat di Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Waspada, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Buana, Tabloid Wanita Indonesia, Majalah Pantau, Jurnal Demokrasi Sosial FES dan Reader’s Digest Indonesia. [kangyayat@gmail.com]
========
SINOPSIS BUKU - Parlemen Undercover : Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat
Setelah kasak-kusuk sangat lama, kami akhirnya bertemu dengan salah seorang anggota dewan wakil rakyat negeri Indosiasat dari partai yang cukup besar yang mau menuliskan seluruh pengalaman yang ia amati langsung dari dalam gedung parlemen (inside story).
Awalnya ia keberatan. Tapi, setelah berusaha keras membujuknya, ia pun setuju dan meminta waktu untuk menuliskannya. Sungguh mengejutkan, hanya kurang dari sebulan ia berhasil merampungkan lebih dari 30 cerita pendek yang terjadi di dalam parlemen dan sebagian besar belum pernah terungkap di media.
Skandal negeri Indosiasat sangat beragam; dari skandal seks, korupsi, hingga penyalahgunaan kekuasaan, dan lain-lain. Demi menjaga kode etik di kalangan koleganya, ia meminta kami untuk tidak mencantumkan nama sebenarnya. ABU SEMAR adalah nama samarannya.
***
“Buku ini tak hanya berhasil memperlihatkan kelakuan tapi juga modus kejahatan sebagian anggota parlemen; tidak hanya mempertontonkan kemunafikan tapi kebejatan perilaku mereka. Semoga sang pemilik kedaulatan sejati tak lagi sesat dalam memilih wakilnya di parlemen tahun 2009 mendatang.”
— Bambang Widjojanto, Senior Partner Law Firm Widjojanto Sonhadji & Associate & Ketua Dewan Etik ICW
“Ini buku BERBAHAYA, karena membuktikan bahwa belum tentu Orde Reformasi lebih baik ketimbang Orde Baru.”
— Jaya Suprana, Pendiri MURI
“Inilah potret parlemen kita yang terhormat setelah lebih dari 30 tahun hanya bisa mengembik. Percaya atau tidak, buku ini ditulis oleh orang dalam sendiri dengan gaya Republik Mimpi atawa Democrazy.”
— K.H. Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang
“Borok-borok banyak wakil rakyat yang sudah terkuak semakin diperjelas lewat informasi kalangan internal. Penyakit yang sudah sangat akut dan harus diamputasi.”
— Majalah Gatra
RESENSI TERKINI - Parlemen Undercover : Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat
Tertarik pada IT, Blogging, SEO, Politik, Dakwah, Islam, Indonesia, Sosial, Pendidikan, Wirausaha, Bisnis, dll






December 11th, 2008 at 9:20 pm
saya bingung nyikapin hal-hal seperti ini, di satu sisi banyak kasus yang terkuak perihal tingkah para petinggi yang demikian, di satu sisi kan ga bisa juga digeneralisasi juga. masih banyak mereka-mereka yang benar baik. fyuh, entahlah.
anyway, nice review. ^^
December 15th, 2008 at 3:06 am
InsyaAllah masih banyak anggota dpr yang baik..
Saya rasa, buku ini juga dalam rangka mengurangi yang busuk-busuk di parlemen kita. Mudah-mudahan di pemilu tahun depan, semakin banyak orang baik yang masuk ke senayan.. amin
btw, Pak Beni mudah-mudahan salah satu yang baik itu
December 26th, 2008 at 4:26 am
Karena dibaca enak dan perlu, maka harus bukunya untuk dimiliki. Ya dimiliki dengan jalan dibeli, tidak nyuri. Salam kenal, kunjungan perdana semoga jadi saudara minimal di dunia maya. Ditunggu kunjungannya di blog beta.
December 26th, 2008 at 4:34 am
Mohon ijin blog bang uji saya tautkan ke blog saya.
December 27th, 2008 at 5:05 pm
Bang Uji, kenapa rekomen orang2 baca buku model ginian?
Di media2 udah buanyak diungkap borok2 DPR, KKN, asusila, malas, suka jalan2, penuntut (minta mobil, baju, laptop), dll, semua itu udah sangat cukup (lebih malah). Buku2 model gini menurutku malah nambahin hal yang udah lebih dari cukup tadi, arahnya malah justru provokasi (manas2in ati), nambah rasa apatis, dan mungkin secara langsung mendidik kita untuk menjadi manusia2 penggunjing & pencela (aku udah begitu kayaknya, buktinya aku sedang mencela buku ini, hehe).
“Juga, patut dibaca warga masyarakat untuk hati-hati dalam memilih wakilnya di Parlemen menjelang Pemilu dan Pilpres 2009.”
Buku ini menurutku cuman menggarami air laut. Masyarakat sudah otomatis ‘hati2′ (tanpa buku ini), sebagian malah bablas jadi apatis. Jadi apa sebenernya manfaat baca buku ini? Kalau sekedar ingin tau detil cerita2 borok DPR (yang katanya ga ada di media), buku ini ga terjamin ‘keshohehan’-nya alias ada potensi (keselip2) gosip/bumbu, dan penulisnya pun ga jelas siapa. Lagian ngapain pengin tau detil, masih kurangkah yang di media2 itu? (penyakit infotainment, suka sama detilnya borok?).
Kalo aku punya blog yang bahas buku ini, mungkin tak judulin “Hati-hati baca buku ini (atau sejenisnya), bisa merusak hati anda”.
January 17th, 2009 at 7:47 am
asslamu’alaik…
maaf nie bang uji…
boleh ngga kalo ni resensi buku yang da di hlaman punya abang saya copy…
soalnya nie buku bgus banget tuk di muat di majalah sekolah saya,,,,
untuk itu saya mohon izin ke abang…
boleh ya bang….???
plizzzz
terima kasih….
wassalamuala’ik…
January 26th, 2009 at 2:59 pm
Lagi-lagi sampah parlemen, kalau boleh saya menyalahkan maka yang patut dipersalahkan adalah masyarakat, disadari atau tidak masyarakat kita masih dalam tatanan masyarakat pragmatis terutama saat menghadapi pemilu legislatif seperti saat ini (9 april 2009) suara masih diperjual belikan, pemilu dianggap bisnis 5tahunan yg menggiurkan.. Ya akhirnya muncullah org2 seperti max moin, dan (sensored),(sensored),(sensored). Heheheee… Saya sendiri loh yg nyensor bukan bang Uji.
Kapan yah pemilu di NKRI seperti pilpres amerika? Masyarakat berlomba-lomba mengirimkan bantuan utk kandidat (obama), bagaimana dg indonesia ??? Hmmmmmm…justru masyarakat yg berlomba-lomba minta bantuan ke kandidat
January 26th, 2009 at 3:13 pm
sorry ada yang ketinggalan nih boss Klik dech